‎”Selembar Foto adalah Catatan Sejarah”

Fotografi telah menjadi sangat populer akhir-akhir ini. Siapapun bisa melakukan kegiatan ini dengan cara yang lebih mudah, murah, dan cepat. Sesungguhnya, dengan semakin populernya fotografi dan begitupula kemajuan teknologi yang ditandai dengan hadirnya situs jejaring sosial, kita sudah terbiasa dengan budaya mendokumentasikan momen. Hari ini, rasanya tidak afdhal jika kita pergi ke suatu tempat atau menghadiri suatu acara dan kita tidak mendokumentasikan kegiatanya lewat media foto. Namun, apakah budaya mendokumentasikan tersebut dibarengi dengan budaya pengarsipan dokumen / karya foto yang kita buat?

Karya foto meski dibatasi oleh bingkai merupakan salah satu bentuk catatan sejarah. Sejarah itu bisa jadi hal yang sangat personal seperti dokumentasi kegiatan di masa lalu, sampai dokumentasi momen-momen penting berskala besar, hal ini identik dengan tugas seorang pewarta foto: mengabadikan sejarah. Tapi apakah para pewarta foto dan peminat fotografi ini sudah sadar akan pentingnya mengarsipkan karya mereka dengan baik? Atau bahkan membiarkannya menjadi karya sejarah yang bisu?

Kini karya foto tidak harus selalu dicetak, penyimpanannya pun mudah dan tidak membutuhkan perlakuan khusus layaknya karya foto yang menggunakan media film seluloid. Tinggal menyediakan ruang kosong di cakram padat komputer, maka karya foto dapat tersimpan dengan baik dan aman, tanpa harus takut berubah kualitasnya. Namun tetap saja, meski sudah menjadi lebih mudah, dibutuhkan manajemen pengarsipan data foto agar karya sejarah tersebut mudah ditemukan dan tersimpan dengan baik hingga melintasi generasi berikutnya. Disadari atau tidak, sebuah karya foto terutama yang di dalamnya terabadikan sebuah momen penting akan jadi sangat berharga suatu saat nanti.

Oleh karena itulah, maka sangat penting untuk membuat sebuah manajemen pengarsipan atas karya foto dengan cara yang lebih baik dan terorganisir. Manajemen pengarsipan ini tidak hanya berupa membuat semacam katalog penyimpanan yang rapih, tapi juga memerlakukan file foto dengan cara yang benar, agar karya foto tersebut tidak rusak.

Wartawan Foto Bandung (WFB) melalui kegiatan diskusi bulanan Pewarta (Foto) Bicara hadir kembali dengan tema “Manajemen Pengarsipan Foto” yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu 26 Maret 2011 pukul 13.00 hingga 16.30 di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Pasundan Jln. Lengkong Besar 68 Bandung.

Pada acara ini akan hadir sebagai narasumber adalah Hermanus Prihatna (Kepala Divisi Pemberitaan Foto Antara) yang akan mengupas tentang “Manajemen Foto, Pengarsipan dan Pemanfaatannya Secara Profesional di Antara Foto” dan Fotografer Eddy Hasby (Kompas Multimedia) yang membahas “Peran Fotografer Dalam Memberdayakan Karyanya Agar Tidak Menjadi Arsip Yang Bisu” . Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s