Kemerdekaan Pers di Indonesia Masih Rendah

Hasil penelitian Dewan Pers sepanjang 2010 menemukan puluhan kasus kekerasan terhadap pers atau media. Kekerasan tersebut meliputi intimidasi, pelecehan verbal, perusakan peralatan liputan, perusak kantor media, menghalangi peliputan, penyekapan, penganiayaan fisik, hingga pembunuhan.

“Kemerdekaan pers di Indonesia masih relatif rendah. Penyebabnya, tingginya angka kekerasan terhadap jurnalis atau media. Sepanjang 2010, terjadi 25 kasus kekerasan terhadap media,” ujar perwakilan Dewan Pers Agus Sudibyo saat menyampaikan “Catatan Akhir Tahun 2010 Dewan Pers” di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (29/12).

Sebagai contoh, imbuh Agus, kriminalisasi kepada Pemimpin Redaksi Majalah Playboy Indonesia Erwin Arnada yang divonis dua tahun penjara oleh Mahkamah Agung (MA). MA menilai Erwin menyebarluaskan materi tindak asusila. Sebaliknya, Dewan Pers menilai putusan MA tidak berdasarkan Undang-undang Pokok.

Kemerdekaan pers merupakan bagian fundamental kehidupan demokrasi sekaligus tolak ukur peradaban suatu negara. Apalagi, kemerdekaan pers di Indonesia telah diatur dalam Undang-undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Andrie Yudhistira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s