CITIZEN JOURNALISM

Jurnalisme warga (citizen journalism) belum menjadi ancaman bagi media massa. Keterlibatan warga dalam produksi berita justru bisa melengkapi hal-hal yang tidak tertangkap wartawan.

Hal itu terungkap dalam Pewarta Foto Bicara bertema “Konsep dan Fotografi Citizen Journalism” yang digelar Wartawan Foto Bandung (WFB) di Gedung Indonesia Menggugat, Sabtu (18/12). Kebangkitan jurnalisme warga pun terjadi dalam foto jurnalistik.

“Semua orang sekarang sudah bisa menjadi wartawan dengan bantuan kemajuan teknologi. Jurnalisme warga ini bisa menjadi salah satu sumber foto di foto jurnalistik. Sumber foto sekarang tidak melulu dari kantor berita,” kata Redaktur Foto Harian Umum pikiran Rakyat Dudi Sugandi yang menjadi nara sumber dalam diskusi tersebut.

Ia mengatakan, foto dari publik, seringkali mampu menangkap peristiwa lebih faktual. Terutama peristiwa-peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, misalnya saja kecelakaan, bencana alam atau fenomena alam lainnya. Keterbatasan jumlah pewarta foto dibandingkan dengan luas wilayah serta banyaknya peristiwa yang terjadi tidak seimbang. Sehingga terkadang pewarta foto tidak selalu datang pada momen terbaik.

“Kita tidak perlu bicara kualitas dulu, tetapi yang terpenting ialah faktual,” ujarnya.

Ia menambahkan, jurnalisme warga justru memberi kesempatan media untuk mampu menyajikan foto yang menarik. Oleh karenanya, sebuah media massa seharusnya bisa menjalin hubungan baik dengan komunitas-komunitas yang tumbuh di masyarakat sehingga bisa melibatkan mereka dalam jurnalisme warga ini.

“Saya melihat jurnalisme warga ini belum menjadi ancaman. Apa yang tidak didapatkan fotografer bisa dilengkapi oleh jurnalisme warga ini,” kata Dudi. Namun meski demikian, ia mengingatkan para pewarta foto agar terus meningkatkan kualitasnya.

Pakar Komunikasi dari Universitas Islam Bandung Santi Indra Astuti mengatakan, jurnalisme warga sempat memunculkan kekhawatiran gerakan ini akan melemahkan media massa. Tetapi hal itu tidak terbukti.

“Satu persatu situs-situs jurnalisme warga berguguran. Sebab butuh stamina tinggi untuk mengelolanya. Dan media massa sangat cerdas dengan merangkul warga. Media kembali mendekatkan diri kepada warga. Karena selama ini media kalau sudah besar kesannya menjadi aroga, Jurnalisme warga ini memperbaiki media dengan publiknya,” tuturnya.

Santi mengatakan, setiap orang kini bisa menjadi jurnalis, yang diperlukan ialah mengasah kepekaan dengan mengubah pola pikir. Jika semula pola pikir mengacu pada dirinya sendiri, pola pikir itu diluaskan menjadi manusia. “Jadi kalau apa yang menurut kita sakit, itu juga akan dirasakan sakit oleh orang lain. Empati itu penting,” ujarnya. Dengan begitu setiap orang punya kesempatan menjadi right man in the right place yang bisa menangkap peristiwa-peristiwa penting yang mungkin luput dari kaca mata media massa.

Aspek hukum jurnalisme warga masih menjadi pertanyaan, karena berbeda dengan pers yang bisa dimintai pertanggung jawaban secara hukum. Menurut Santi, Sepanjang yang diketahui, baru satu kasus praktek jurnalisme warga melalui blog yang diseret ke pengadilan karena menyebarkan berita yang menyesatkan, hal ini terjadi di Malaysia. Namun Fenomena WikiLeaks yang diprakarsai Julian Assange pun bisa dibilang bagian dari Citizen Journalism, tapi Amerika ga berani menuduh dia karena membocorkan rahasia negara,kalau di Indonesia bisa dikenai pasal pasal Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) No. 14/2008.*

M Gelora Sapta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s