Cukilan Diskusi Etika Jurnalistik dan Etika Memotret

Etika tak tertulis yang mencakup hak dan kewajiban bagi profesi pewarta foto (fotografer) perlu dituangkan dalam acuan kode etik. Selain menjadi jalur perangkat etika, kode etik juga diperlukan untuk meningkatkan posisi pewarta foto di dalam industri media massa.
Demikian dikatakan mantan ketua Aliansi Jurnalistik Idependen Bandung Nursyawal, dalam diskusi “Pewarta (Foto) Bicara” di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Sabtu (20/11). Diskusi yang dihadiri oleh kalangan pewarta foto, mahasiswa, seniman, dan masyarakat umum ini diselenggarakan oleh Wartawan Foto Bandung (WFB).
“Kode etik dibutuhkan untuk menjadi semacam upaya preventif bagi fotografer ketika berhadapan dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dihadapi, seperti upaya represif, kode etik itu bisa berupa kesepakatan yang dituangkan dalam empat atau lima kalimat ataupun dalam bentuk pasal-pasal,” kata Nursyawal.
Selama ini, lanjut dia, perlindungan profesi bagi pewarta hanya disusun secara umum dalam bentuk Kode Etik Jurnalistik. “Belum ada perlindungan profesi yang khusus membicarakan pewarta foto. Kalaupun ada hanya memuat satu pasal dalam Kode Etik Jurnalistik,” ucapnya.
Sementara Eks Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia Tantyo Bangun yang juga hadir sebagai pembicara, mengatakan bahwa ketiadaan perlindungan profesi bagi pewarta foto menjadi salah satu penyebab keadaan pewarta foto yang dinomorduakan.
“Etika mengenai foto jurnalistik di Kode Etik Jurnalistik Indonesia memang nyaris tidak tersentuh. Mungkin sudah saatnya memposisikan diri lebih baik dalam industri pers,” ucap Tantyo.
Oleh industri, kata dia, fotografer seringkali tidak diberikan ruang untuk mengeksplorasi gagasan. “Makanya kadang profesi fotografer seringkali dipandang sebelah mata jika dibandingkan dengan wartawan tulis. Fotografer baru disanjung oleh media tempatnya bekerja ketika memenangkan sebuah perlombaan,” kata Tantyo.
Padahal, lanjut Tantyo, karya fotografi sama kuatnya dengan teks untuk menceritakan sebuah investigasi. “Foto bahkan seringkali lebih banyak bercerita daripada deretan kalimat,” ujarnya.

M Gelora Sapta/Wartawan Foto Bandung (WFB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s