Bandung kini sudah mirip Jakarta

Aga Pribadi Perkasa,22,sudah lupa kapan terakhir menikmati akhir pekan nyaman di kota tempat tinggalnya, Bandung.Kemacetan pada akhir pekan di Bandung kini sudah biasa,bahkan menular ke hari kerja.

“SAYA sudah tidak pernah berani melewati Jalan H Ir Juanda (Dago) di akhir pekan.Hari libur saya bisa habis di jalan,” keluh Aga menggambarkan rasa frustrasi atas kemacetan Kota Kembang itu. Kemacetan di Bandung, Jawa Barat memang sudah parah. Baik hari kerja maupun akhir pekan, kendaraan berjejalan di jalanan Paris van Java yang sempit.Tingkat kemacetan bahkan sudah mirip Jakarta. 

Dalam keadaan lancar, laju kendaraan seharusnya bisa mencapai 30 km per jam, tetapi, ketika macet, bisa jadi tidak lebih dari 5–10 km per jam. Berbagai cara sudah dicoba untuk memecahkan problem transportasi di Bandung.Namun, masalah tak kunjung dipecahkan. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung Prijo Soebiandiono menyatakan, penyebab utama kemacetan di Kota Bandung bukan infrastruktur jalan yang tidak memadai,melainkan kesadaran warga kota yang sangat minim dalam menggunakan fasilitas jalan.

Misalnya parkir di badan jalan. Penambahan volume kendaraan yang menyebabkan kemacetan hanya terjadi saat peak hours dan akhir pekan yang kebanyakan didominasi kendaraan dari luar Kota Bandung. Penambahan ruas jalan, kata Prijo, bukan solusi terbaik. Selain membutuhkan biaya sangat mahal, hal itu sulit dilakukan karena ketiadaan lahan, kecuali dengan pembangunan flyover.

Justru langkah paling mendesak yang perlu dilakukan adalah mengubah paradigma berpikir dan bersikap dari warga kota disertai ketegasan aparat yang terkait. “Masih banyak warga yang menggunakan badan jalan untuk parkir liar atau pedagang yang memanfaatkan badan jalan, seperti halnya pasar tumpah. Cara bersikap seperti itulah yang harus segera diubah tentunya disertai tindakan tegas dan aturan yang ketat,” ujar Prijo di Balai Kota Bandung, kemarin.

Dia menjelaskan,langkah lainnya yang dianggap penting adalah segera mengoptimalkan sistem transportasi massal.Trans Metro Bandung (TMB) sebagai embrio angkutan massal akan dilanjutkan dengan pengoperasian beberapa moda angkutan massal lain. Pakar transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Kusbiantoro, mengatakan pembenahan sistem transportasi massal Kota Bandung sudah sangat mendesak.

Menurut dia, armada TMB yang ada saat ini harus dikelola dengan lebih baik agar menarik minat warga untuk memanfaatkannya. Salah satu usulan perbaikan adalah penyediaan kendaraan pengumpan atau feeder. “Trans Metro Bandung itu sepertinya dirancang mirip dengan Transjakarta,yaitu angkutan umum yang berfungsi untuk membawa warga dari satu titik ke titik lain, tetapi bukan ke tujuan akhir. Karena itu, sarana pendukungnya harus benar-benar disiapkan,”ujar Kusbiantoro.

Salah satu gagasan baru untuk mengurangi kemacetan, pemerintah Kota Bandung bersama tim dari ITB telah melakukan survei pembangunan gedung parkir. Prijo Soebiandono mengatakan, dari survei tersebut disimpulkan bahwa setiap radius 0,5 kilometer akan dibangun gedung parkir, seperti di Jalan Otto Iskandardinata, Jalan Dalem Kaum,RE Martadinata, Sudirman, dan kawasan lain yang badan jalannya biasa digunakan lahan parkir.Saat ini,setidaknya ada 128 titik tempat parkir resmi yang menggunakan badan jalan. (agung bakti sarasa/Sindo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s